Rabu, 10 Juni 2015

18.20

Tittle    : 18.20
Genre  : Romance
Length : 643 words
Author : Chaca Natasya
Cast     : Park Chanyeol
              Choi Rinri

---o0o---
As long as the time was passed, you’ll gonna miss her. Trust me, because it ever happened to me.
---o0o---
           


            14.13


            Detik demi detik mempengaruhi deruan nafas seorang Choi Rinri. Tangannya menggenggam sebuah botol yang berisikan puluhan pil berwarna putih. Choi Rinri menghela nafas, ia gundah.

            Diliriknya lagi jam dinding pemberian si pria.


            14.15


            Gadis itu mengangguk, mengambil ponselnya. Menelpon seseorang.

            Sekitar 2 jam dihabiskan gadis itu dengan adu mulut dengan sesorang di seberang sana. Tak jarang wanita itu berteriak dan terisak. Si pria yang menjadi lawan bicara mencoba untuk memberikan penjelasan lebih rinci, namun Rinri... Gadis itu menyangkalnya dengan bukti yang tak kalah kuat.
            Perselisihan kecil mereka berakhir seiring dengan panggilan dari sang manajer si Pria. Rinri menggumamkan kata maaf berulang kali, dan si pria semakin menegaskankan bahwa semua ini bukanlah salah Rinri.

            “Sudahlah Nona Choi, aku yakin kita bisa melewatinya bersama-sama.”
           
            PIP.

            Tubuh Rinri merosot, dahinya membentur ujung lancip meja jati rumah mereka, sehingga mengeluarkan darah. Kepalanya berdenyut, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.



---o0o---
           
            Tes... Tes...

            Dari sini, terlihat seorang pria yang menyandarkan tubuhnya pada pintu ruangan operasi. Mulutnya tak kunjung berhenti memanjatkan doa yang ia ingat. Hujan membanjiri kota Seoul, dan mood si pria semakin memburuk.
           
            “Sudahlah man, dia ditangani oleh dokter terbaik.”

            Teman satunya lagi mengangguk untuk menimpali.

            “Chanyeol sudah ku katakan, ia akan baik-baik saja.”

            Si namja yang ternyata bernama Chanyeol itu menggeleng, tangisannya semakin membesar. Sesekali jeritan pria yang memiliki suara berat itu menggema di seluruh lorong rumah sakit. Ia bahkan menjadi pusat perhatian disana.

            “Ini salahku. Bisakah kalian mengerti? Kalau saja aku.. Aku tak egois, andai saja saat itu aku percaya padanya... Harusnya aku tahu hal itu lebih awal!” Keluhan Chanyeol ditampung miris oleh ke empat temannya yang hadir disana –Kris, Baekhyun, Chen, dan Suho-

            Suho hadir untuk merengkuh teman lamanya dengan rengkuhan terhangat yang ia miliki. Kris juga menambahkan petuah bijak yang sering ia lontarkan untuk memarahi Yejin, sang kekasih. Sedang Chen dan Baekhyun? Mereka berdua melakukan tarian bebek agar tangisan Chanyeol mereda.

            CKREK...

            Chanyeol berdiri, pria itu menyingkirkan tangan Suho dan Kris. Pria itu –tanpa sadar- mendorong sang dokter yang baru saja usai menjalankan operasinya. Baekhyun menggeleng lemah, beginilah sifat asli Chanyeol. Begitu keras kepala.

            “Jwesonghamnida uisanim, teman saya...”

            “Never mind... Bisakah kalian berempat datang ke ruangan saya? Ada hal yang ingin saya bicarakan.” Balas si dokter dengan senyum ramahnya.

            Mari kita kembali pada Chanyeol yang tengah menggenggam jemari gadisnya. Pria itu menangis dan merutuki kelalaian dirinya dalam mengurus satu gadis macam Rinri. Rinri si gadis yang notabene ditangisi oleh Chanyeol menggerakan tangannya yang lemah guna mengelus rambut merah Chanyeol.
            Gadis itu bernyanyi, menyanyikan lagu favorit mereka semasa kuliah. Mengenang masa-masa dimana kebahagiaan hanya milik mereka berdua. Chanyeol mengangkat wajahnya agar bisa menatap Rinri.
            Gadis itu terkulai lemah dengan selang infus serta puluhan jarum yang menempel dalam tubuhnya. “Cepat atau lambat, hal ini pasti akan terjadi Chan...”

            Chanyeol menggeleng. Pria itu menjerit berkata tidak.

            Elusan Rinri di rambut Chanyeol terhenti. Gadis itu tersenyum, buru-buru Chanyeol menggenggam lengan gadis itu sebelum terjatuh.

            Sesaat tak ada percakapan apapun diantara mereka. Baik Rinri dan Chanyeol, mereka saling tenggelam dalam kebisuan masing-masing. Kali ini, mereka mencoba menghabiskan waktu dengan mengagumi kesempurnaan masing-masing.


            18.20


            Rinri melebarkan senyumannya, seakan tahu apa yang akan terjadi di detik berikutnya, Chanyeol semakin mengeratkan genggamannya di tangan Rinri.

            anyeong Park Chanyeol

            “KAJIMA!”


END
Hollaaaaa... Aneh ya judulnya? –mau curhat- abis bingung mau kasih judul apa. Dari pada judulnya dibiarin kosong, maka aku isi aja dengan jam kematian Rinri. Bagi yang bingung kenapa Rinri itu meninggal padahal cuman karena kepentuk meja, sebenarnya Rinri udah mengidap penyakit berat dan baru ketahuan oleh Chanyeol saat Rinri menghubunginya di jam 14.15

Beginulah.. Maaf kalau kurang puass.. pai pai
J

0 komentar:

Posting Komentar

 

Untouchable world Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang